BANGSA DAN GEREJA YANG TERLUKA

“Negara gagal taklukkan Gereja. Gereja bukan panggung politik praktis. Gereja hadir dan berada untuk umat tertindas dan takut dan membisu”.

Oleh Gembala Dr. Socratez Yoman

Para pembaca akan mempelajari dua wajah dan dua kepentingan yang berbeda yang saya sebut Bangsa Dan Gereja yang Terluka.

Bacalah! Anda akan mengerti apa yang dimaksud Bangsa Dan Gereja yang Terluka.


Jubelium 50 tahun Persekutuan Gereja-gereja Baptis Papua (kini: West Papua) pada 28 Oktober 2006 dilaksanakan di Tiom (Kabupaten Lanny Jaya).

Saya mendapat informasi bahwa bupati Tolikara John Tabo membantu dana 1 milyar, tetapi diserahkan kepada panitia sebesar Rp 600juta. Uang Rp 600 juta itu, saya saksikan pada saat penyerahan waktu itu. Saya saksikan ada seorang hamba Tuhan atau pendeta mengambil uang itu dan masukan di dalam karton dan letakkan di bawah meja. Saya melihat uang itu, tetapi uang itu hilang tanpa jejak dan saya tidak pernah tahu uang itu menghilang kemana dan siapa yang merampok atau mencuri uang itu.

Selain 600 juta dari bupati Tolikara John Tabo, ada 600 juta dari bupati Jayawijaya alm Nicolas Yigibalom, 600 juta dari bupati Pegunungan Bintang alm. Wellington Wenda dan 300 juta dari bupati Puncak Jaya alm. Eliezer Renmaur. Total 2 milyar 100 juta.

Minggu, 29 Oktober 2006, saya pergi ikut ibadah minggu di gereja Baptis Yiwenggame di kampung saya. Saya kembali sorenya ke Tiom ibu kota Lanny Jaya. Saya bertemu kembali istri dan anak saya, Pendeta Andreas Yanengga, Pdt. Gad Fonataba dan istrinya, Pdt Willem Kogoya dan istrinya dan pak Piet Hein Kareth yang ikut ibadah di kota Tiom bersama panitia dan tamu dan rombomgan dari Jayapura.Setelah saya tiba di Tiom dari kampung, saya tanya istri saya. Dimana panitia, semua tamu dan rombongan?

Istri saya sampaikan: “Mereka sudah berangkat semua ke Wamena dengan bus jemputan”.

Saya panggil bendahara Pengurus Selius Wenda dan saya bertanya. Apakah panitia ada kasih uang dan siapkan mobil atau pesawat untuk kami? Bendahara sampaikan kepada saya: “Maaf, saya hanya pegang uang persembahan 10 juta, tapi kebanyakan 1.000 rupiah dan hanya 2 juta saja beberapa 100ribu, 50ribu, 10ribu dan 5ribu”.

Saya sampaikan: “Berkat Tuhan itu sangat cukup. Uang 1.000an itu uang dari jemaat. Kita berangkat besok pagi pada 30 Oktober 2006”.

Pada 30 Oktober 2006, saya dengan rombongan ke lapangan terbang MAF Tiom untuk tunggu pesawat. Kami tidak tahu pesawat darimana, tapi kami tunggu dengan iman kepada Tuhan Yesus Kristus Mesias Anak Allah yang hidup. Pesawat Caravan 9 kursi dan pesawat Cessna 5 kursi mendarat di Tiom pada jam 8 pagi untuk menjemput rombongan misionaris dan 3 kursi pesawat Caravan tujuan langsung Jayapura. Say, istri dan anak saya diminta ikut pesawat ini. Karena, ada jadwal pertemuan misionaris ABMS dengan Ketua Sinode GKI.

Saya menolak ikut rombongan misionaris ABMS. Saya sampaikan tunggu saya di Jayapura. Karena saya tidak mau meninggalkan Pendeta Andreas Yanengga, Pdt. Gad Fonataba dan istrinya, dan pak Piet Hein Kareth, Pdt. Willem Kogoya, istrinya.

Kami sudah tidak ada pesawat untuk ke Wamena. Panitia satupun tidak ada di Tiom. Dalam keadaan seperti itu saya sampaikan kepada bapak Pdt Andreas Yanengga mantan Ketua Umum Persekutuan Gereja-gereja Baptis Papua (kini: West Papua) dan yakinkan istri dan anak saya dan semua orang yang bersama saya.”Tuhan Yesus pasti kirim pesawat dan kita pasti berangkat hari ini”.

Pilot pesawat AMA David terbang rendah dari arah Mulia Puncak Jaya melewati kampung saya dan mendaratkan pesawat dari arah berlawanan dari Kepala Lapangan Terbang. Pilot langsung bertanya:

“Berapa orang rombongan bapak Ketua?” Saya sampaikan: “Kami 10 orang”. Pilot sampaikan: “Boleh ikut saya 9 orang karena kursi hanya 9 kursi”.

Saya sampaikan kepada pilot dua hal:
(1). Berapa saya bayar ongkos pesawat? Pilot sampaikan: Bayar 2juta. Saya sampaikan: Apakah saya bisa bayar di Wamena? Pilot setuju. (2). Saya sampaikan pilot Cevin. “Saya tinggal dan yang berangkatkan 9 orang sesuai kursi.” Pilot Cevin terbangkan pesawat menuju Wamena. Saya tinggal dengan bendahara dan Pdt Willem Kogoya di Tiom.

Pada hari yang sama ada pesawat MAF berbadan kecil dipiloti Brian tiba di Tiom untuk menjemput keluarga pdt Rodney Bensley dan ibu Helen untuk ke Makki. Saya sampaikan Pilot Brian kembali jemput saya setelah antar pdt Rod dan istrinya ke Makki.

Pilot Brian kembali ke Tiom dan saya dengan Pdt Willem Kogoya ke Wamena dan bertemu dengan rombongan yang sudah terbang bersama pilot Cevin. Saya ambil uang di ATM dan pergi bayar pesawat Missi AMA di Wamena sebesar 2 juta rupiah.

Kami semua ke Airport Wamena dan lapor untuk berangkat ke Jayapura. Kami semua tiba di Jayapura. Dari Airport Sentani kami harus berpisah dengan Piet Hein Kareth harus lanjut ke Sorong.

Saya dekati pak Piet dan sampaikan: “Pak Piet, saya minta maaf, uang dalam plastik ini kelihatan tebal, tapi hanya 1 juta dan uang 1000-an dan kusut-kusut”.

Pak Piet sampaikan: “Pak Yoman, terima kasih, itu uang sudah cukup untuk saya beli tiket. Saya pasti tiba di Sorong”.


Pada 24- 28 Oktober 2015 dilaksanakan Kongres Persekutuan Gereja-gereja Baptis (PGBWP) di Wamena. Dana yang dikeluarkan pemerintah kabupaten Lanny Jaya sebesar 4 milyar.

Pembukaan Kongres ini dilakanakan di lapangan Pendidikan Wamena pada 24 Oktober dan dihadiri Pangdam XVII Cenderawasih, mewakili Kapolda Papua, Komandan Angkatan Laut, Komandan Angkatan Udara dari Jayapura.

Sebelum Kongres, bupati Lanny Jaya menawarkan para pendeta dan gembala uang 3 juta setiap orang untuk ikut Kongres di Wamena dan dilarang jangan ikut Kongres ke-18 pada 9-14 Desember 2017 di Wamena.

Kongres 24-28 Oktober 2015, semua ASN dan guru diliburkan dan sebagian besar anak-anak sekolah murid SMP dan SMU dan semua Kepala Sekolah ikut dan ASN diwajibkan ikut Kongres. Kalau tidak ikut akan diberikan sanksi dengan diberhentikan dari jabatan.

Selama Befa Yigibalom menjabat sebagai Bupati Lanny Jaya selama dua periode, yaitu tahun 2011–2016 dan 2017–2022, dia melarang seluruh pejabat dan ASN membantu kegiatan rohani yang kami laksanakan. Bantuan keagamaan juga belum pernah diberikan. Kami pernah dibantu satu kali senilai 200 juta untuk biaya rapat tanggal 17-20 Februari 2015 di Guripa, Tiom, Lanny Jaya.


BENANG MERAHNYA jelas. Pada 29 Oktober 2006 ada pertemuan tertutup di kediaman wakil bupati Jayawijaya, Nicolas Yigibalom. Yang hadir dalam rapat tertutup Dandim Wamena, Kapolres Wamena, Wellington Wenda bupati Pegunungan Bintang, Nicolas Yigibalom wakil bupati Jayawijaya. Rapat selesai jam 02.00 subuh 30 Oktober 2006. Agendanya tunggal, yaitu, untuk menurunkan saya dari Ketua Umum Badan Pusat Persekutuan Gereja-gereja Baptis Papua (kini: West Papua).

Usahakan menurunkan saya dari Ketua Umum dimulai dari tahun 2006 sampai tahun 2017. Akhirnya, mereka capeh sendiri, pusing sendiri, dan gagal semua usaha-usaha dengan kehendak, kemauan dan kesombongan manusia.

(Kisah lengkap tertulis dalam buku: (1) Mereka yang Melayani Dengan Kasih (Yoman: 2017); (2) Tebing Terjal Perdamaian di Tanah Papua (Yoman:2019); (3) Apakah Indonesia Menduduki Dan Menjajah Papua? (Yoman: 2013);


Ada kisah dengan wajah yang berbeda, yaitu, Pendeta Petrus E. Imoliana pada Agustus 2025 memprovokasi dan mengeluarkan kata-kata yang tidak layak dan juga tidak mencerminkan sebagai seorang yang selalu berbicara Firman Tuhan.

Ucapan provokasi dan vulgar dari pendeta Petrus yang sudah beredar luar dalam bentuk vidio dan transkripnya sebagai berikut:

“Kakak-kakak para Jenderal GKI di Tanah Papua sudah waktunya untuk kita keluarkan bintang kita semua. Sekali lagi kakak-kakak para jenderal termasuk yang foto baru muncul ini, sudah waktunya seluruh bintang kita, kita kekuarkan untuk harga diri gereja ini, kehormatan gereja ini, martabat gereja ini demi nama Tuhan Yesus dan demi Tanah Injil. Hari ini seluruh bintang kita keluarkan. Kita hadapi musuh. Hari ini perang terbuka yang saling berhadap-hadapan dengan musuh.

Jadi jangan pernah salah langkah, salah salah kata, salah fikir, salah rasa. Hadapi, hancurkan, remukkan kepala ular. Kita bicara setelah tiba di daratan. Jangan berdebat di tengah laut karena badai terlalu besar untuk kita berdebat.

Segenap kekuatan di kabupaten Biak Numfor sampai di Supiori itu digerakkan hari ini. Tidak usah berpikir lain, tidak usah berpikir mau makan apa, mau minum apa, mau beli BBM pakai apa? Kita perang pakai tangan kosong dan semangat. Kita penggal kepala musuh dulu baru kita bicara di daratan setelah tiba di daratan. Begitu. Ayoo…teman-teman”.


Pdt. Petrus Imoliana menghina, meremehkan dan merendahkan martabat masyarakat Serui-Ambai.

Pernyataan ini tidak boleh dikeluarkan dari seorang pendeta yang bertugas menjaga, merawat, memelihara dan menggembalakan umat Tuhan dalam satu kesatuan untuk perdamaian Papua, bukan memecah belah dan provokatif dan menyudutkan rakyat Serui-Ambai.

Saya kutip pernyataan Pendeta Petrus sebagai berikut:

HERAN DAN BINGUNG*_

Kita tidak perlu urus Ambai, kita Fokus saja ke BTM-CK karena toh Pilkada 2024 kita kalah di Ambai tapi menang di Yapen dengan selisih suara 14.000.
Suara inilah yang harus kita pertahankan mati-,matian sambil berusaha untuk menambah selisih lebih dari Pilkada 2024.Macam Ambai itu Sorga yang menentukan kehidupan kekal k.Kita tidak perlu buang waktu untuk membahas Ambai, mari kita Fokus dengan Tuhan dan BTM-CK, bahwa Kepulauan Yapen itu bukan hanya Ambai.Kita baru kecewa jika Pilkada 2024, Kemenangan BTM-YB ditentukan oleh Perolehan Suara dari Ambai….Tidak to ?90% orang Ambai memilih MARI-YO, tapi kita menang di Kepulauan Yapen dengan Perolehan Suara yang Signifikan karena Peran Relawan, Simpatisan, massa pendukung dan Saksi serta KUALISI PERJUANGAN RAKYAT._Jadi kenapa waktu dan energi habis hanya untuk bahas Ambai k ?_


Ibu Pendeta Thineke M. Sibri berkhotbah di mimbar di kepan orang-orang kudus yang merindukan penguatan, peneguhan, penghiburan, pertumbuhan rohani dan iman yang bersumber dari kebenaran Firman Tuhan, tetapi mimbar suci dijadikan panggung kampaye politik praktis yang bukan tempatnya dan juga bukan tugas atau domainnya.

Saya kutip kampanye politik ibu pdt Thineke sebagai berikut:

“Papua membutuhkan pemimpin yang takut akan Tuhan. Itu sebabnya tanggal 6, bapak ibu berikan pilihan yang tepat untuk memimpin negeri Papua ini. Papua ini terdiri dari Tabi dan Saireri. Tabi itu Kota Jayapura, Keerom, Kabupaten Jayapura, Sarmi dan Mamberamo itu disebut dengan Tabi. Saireri adalah Biak Numfor, Supiori, Waropen dan Yapen. Kita adalah satu provinsi, yaitu provinsi Papua. Di dalamnya ada Tabi dan Saireri. Taruhlah pilihanmu tepat bagi anak Tabi dan Saireri. Dan pilihan nomor 1 adalah pilihan tepat.”


Saya mengutip pernyataan Pendeta Andrikus Mofu, M.Th. Ketua Sinode GKI di Tanah Papua dalam merespon Keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) Sengketa PSU Provinsi Provinsi Papua pada 17 September 2025. PSU pemilihan Gubernur Papua sudah berlansung pada 6 Agustus 2025.

“Selaku Ketua Sinode Gereja Kristen Injili di Tanah Papua, kami sangat menyesal bergabung dengan Republik ini….. GKI di Tanah Papua mencatat sejarah oleh Ketua Sinode Pertama menyatakan sikap untuk kami bergabung dengan Negara Republik Indonesia, tetapi dengan perilaku-perilaku seperti ini sekali lagi sebagai Ketua Sinode saya menyatakan kami menyesal. Ingat! Harus dicatat! Saya katakan kepada Presiden Prabowo, kami sangat menyesal bergabung dengan Republik Indonesia” (Pdt Andrikus Mofu, M.Th. Ketua Sinode GKI di Tanah Papua, 17 September 2025).

Pernyataan ini sangat benar, sudah mewakili hati kita semua sebagai Penduduk Orang Asli Papua Barat dari Sorong-Merauke yang menderita ketidakadilan selama 63 tahun sejak 19 Desember 1961 dalam republik ini. Saya mendukung. TETAPI, hemat saya bahwa pemilihan momentum dan konteksnya tidak tepat dan salah”.


Pernyataan yang sama pernah tapi dalam konteks dan waktu yang berbeda disampaikan Tokoh Besar milik orang Papua Barat (bukan hanya milik orang Tabi atau Saireri), yaitu, Barnabas Suebu,SH yang akrab dipanggil Kaka Bas, menyatakan penyesalannya seperti dikutip ini.

Saya sebagai orang Papua menyesal bergabung ke Republik Indonesia ini karena pemerintah bersikap diskriminatif terhadap warganya. Saya tidak terbukti satu sen pun melakukan korupsi, tidak terbukti di pengadilan. Saya di zolimi. Jadi saya menyesal dengan putusan ini.

“Tidak terbukti, satusenpun, saya tidak mengambil uang negara. Tidak terbukti di pengadilan. Saya dizolimi. Jadi, saya menyesal. Tulis itu ya. Tulis itu. Jangan kamu takut tulis. Saya menyesal bergabung dengan Republik Indonesia.”Selasa (7/11/2017).


Selamat membaca. Selamat untuk mengerti. Terima kasih.

Ita Wakhu Purom, Minggu, 22 Maret 2026

Kontak: 08124888458

Penulis Gembala Dr. Socratez Yoman

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai