Hari ini bangsa Papua sedang menapaki jalan sejarah yang menentukan. Perjuangan panjang yang telah kita jalani bukanlah sekadar soal simbol, tetapi tentang kebenaran sejarah dan keabsahan dasar perjuangan kita.

Hari ini bangsa Papua sedang menapaki jalan sejarah yang menentukan. Perjuangan panjang yang telah kita jalani bukanlah sekadar soal simbol, tetapi tentang kebenaran sejarah dan keabsahan dasar perjuangan kita.

Selama ini, banyak arah dan strategi telah ditempuh. Salah satunya adalah mengangkat bendera bintang kejora sebagai simbol identitas. Namun kita harus berani mengakui dengan jujur, bahwa perbedaan simbol justru telah menciptakan kerancuan, bahkan dimanfaatkan oleh pihak luar untuk memecah belah semangat bangsa Papua sendiri. Kita tidak boleh lagi membiarkan perjuangan ini terombang-ambing oleh simbol-simbol yang tidak memiliki dasar kuat dan sah secara historis.

Di atas semua itu, bangsa Papua sesungguhnya telah memiliki fondasi resmi yang tidak terbantahkan, yaitu Proklamasi Kemerdekaan 14 Desember 1988, dengan Drs. Septinus Mamborai Paiki sebagai penanggung jawab resminya. Proklamasi ini lahir bukan dari ambisi pribadi, melainkan dari kesadaran kolektif bangsa Papua bahwa kita berhak merdeka, baik secara jasmani maupun rohani. Proklamasi 1988 adalah deklarasi yang jelas, tegas, dan menjadi pegangan sah bagi seluruh anak bangsa Papua.

Oleh sebab itu, kepada Bapa Benny Wenda, seluruh jajaran kepemimpinan, dan segenap pendukung yang telah berjuang di berbagai medan, kami menyerukan dengan hormat sekaligus penuh ketegasan: tinggalkanlah bendera bintang kejora, hentikanlah segala bentuk perjuangan yang tidak berakar pada proklamasi resmi 1988. Saatnya kita semua kembali kepada satu jalur perjuangan yang kokoh, agar dunia melihat kita bersatu, tidak tercerai-berai.

Bangsa yang besar tidak mungkin dibangun di atas perpecahan simbol. Bangsa yang merdeka hanya bisa berdiri tegak jika berakar pada kebenaran sejarahnya sendiri. Dan kebenaran sejarah kita ada pada 14 Desember 1988.

Kini saatnya kita mengakhiri kebingungan dan dualisme perjuangan. Mari kita bersatu kembali, mengakui, mendukung, dan menegakkan proklamasi kemerdekaan Papua yang sah, di bawah kepemimpinan Drs. Septinus Mamborai Paiki.

Dengan bersatu, kita akan menjadi kuat. Dengan bersatu, suara kita akan terdengar lebih lantang. Dengan bersatu, dunia internasional akan melihat bahwa bangsa Papua tidak terpecah-pecah, tetapi teguh di atas satu fondasi perjuangan.

Maka, mari kita satukan langkah, satukan hati, satukan tenaga, dan satukan pikiran. Demi tanah Papua yang kita cintai, demi generasi yang akan datang, dan demi kebenaran yang telah lama ditutupi, kita harus kembali pada Proklamasi Kemerdekaan 14 Desember 1988.

Inilah jalan pulang, inilah dasar perjuangan sejati, dan inilah warisan sah yang harus kita junjung tinggi bersama.

@sorotan

drsseptinmamboraipaiki

septinmamboraipaiki

presidenrepublikmelanesiabarat

proklamasi14desember1988

benderapanjikristusbintang14

koranomamboraipaiki

mamboraipaiki

bapamamboraipaiki

presidenmamboraipaiki

bapakoranomamboraipaiki

melanesiabaratmerdeka

perjuangantanpasenjata

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai