Di atas awan, jauh dari jalan raya dan bising kota, ada sebuah kampung kecil bernama Air Terjun.
Cerita dongen anak polosok

Di atas awan, jauh dari jalan raya dan bising kota, ada sebuah kampung kecil bernama Air Terjun.
Kabut putih setiap pagi turun, menutupi atap rumah panggung.
Di ujung kampung, air jernih jatuh dari tebing tinggi, mengalir tak henti—seperti doa yang tak pernah putus.
Di sanalah seorang anak bernama Yonas lahir.
Rumahnya sederhana, dinding kayu, atap seng berkarat.
Namun hatinya dipenuhi mimpi yang tak pernah kecil.
Setiap pagi ia berjalan jauh ke sekolah.
Menyusuri jalan licin, menyeberangi sungai, dan mendaki bukit.
Kadang hujan mengguyur, kadang sandal terlepas,
tapi langkahnya tak pernah surut.
Malam hari, ia belajar di bawah cahaya pelita.
Matanya perih oleh asap minyak tanah,
namun ia tetap membaca, tetap menulis mimpi:
“Aku ingin kembali sebagai guru, agar anak-anak kampungku tak lagi berjalan sejauh ini untuk belajar.”
Waktu berjalan.
Yonas tumbuh, pergi ke kota,
berjuang menahan lapar, bekerja sambilan, belajar tanpa henti.
Ia jatuh, bangun, jatuh lagi,
namun selalu bangkit—seperti air terjun yang tak pernah berhenti jatuh meski membentur batu.
Dan suatu hari, mimpinya menjadi nyata.
Dengan toga di pundak, ia pulang.
Anak-anak kampung menyambutnya,
mata mereka berbinar, hati mereka percaya:
“Jika Yonas bisa, kami pun bisa.”
Kini di Kampung Air Terjun, suara gemuruh bukan hanya milik air yang jatuh dari tebing,
tapi juga milik anak-anak yang berani bermimpi.
Mimpi yang lahir dari kabut, dari pelita kecil,
dan dari hati seorang anak polosok negeri di atas awan.
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.