“Menunjukkan jati diri bangsa papua barat setelah Wisuda di Bawah Bendera bintang kejora vc bendera KNPB Perjuangan”

“Menunjukkan jati diri bangsa papua barat setelah Wisuda di Bawah Bendera bintang kejora vc bendera KNPB Perjuangan”
Hari itu langit Jayapura tampak mendung, seolah ikut menyimpan segala perasaan yang berkecamuk di dada anak-anak muda Papua. Di halaman kampus yang megah, para wisudawan berbaris dengan toga hitam, medali emas di dada, dan senyum bahagia yang tak bisa disembunyikan. Suara musik tradisional mengiringi langkah-langkah kecil mereka, sementara keluarga, teman, dan kerabat merayakan keberhasilan ini dengan sukacita.
Namun di tengah gemuruh tawa dan kamera yang berderet mengambil gambar, ada sesuatu yang berbeda. Di antara toga-toga yang mengilap, dua bendera berkibar—bendera Bintang Kejora dan bendera merah bertuliskan KNPB LAWAN. Anak-anak muda Papua itu berdiri tegak, mengangkat bendera dengan tangan mengepal. Sorot mata mereka penuh keberanian, seakan ingin mengatakan: “Kami bukan hanya sarjana, kami juga suara dari tanah yang berdarah.”
Seorang pemuda bertubuh jangkung, mengenakan kemeja kotak-kotak, berdiri di samping para wisudawan. Ia menatap bangunan kampus yang kokoh, sambil menggenggam erat bendera. Ia bukan wisudawan, tetapi kehadirannya penting—ia mewakili suara rakyat di kampung-kampung pedalaman, suara ibu-ibu yang kehilangan anak karena peluru, dan suara generasi muda yang ingin mengubah nasib bangsanya dengan ilmu.
“Saudara-saudaraku,” katanya lirih tapi tegas, “hari ini kita bukan hanya merayakan keberhasilan akademik. Kita merayakan kemenangan kecil dari perjuangan panjang. Kita bisa berdiri di sini karena pengorbanan orang tua, pejuang, dan leluhur kita.”
Mata seorang wisudawati berkaca-kaca. Ia mengenakan gaun batik Papua di balik toga. Gelang anyaman dari kulit kayu menghiasi pergelangan tangannya. “Beta sekolah jauh dari kampung, banyak kali hampir menyerah,” ucapnya. “Tapi beta tahu, ilmu ini bukan cuma untuk beta. Ilmu ini untuk tanah Papua.”
Suasana menjadi haru. Seorang anak kecil berlari-lari di depan, mengenakan gaun kuning bermotif cenderawasih. Ia berdiri di depan bendera Bintang Kejora, senyumnya polos, seakan belum mengerti bahwa ia adalah simbol harapan. Generasi yang kelak akan melanjutkan perjalanan panjang ini.
Di sekitar mereka, masyarakat kampus lalu-lalang. Ada yang tersenyum bangga, ada pula yang memandang penuh tanda tanya. Namun bagi kelompok kecil itu, momen ini adalah pernyataan: pendidikan adalah senjata baru dalam perjuangan, dan mereka tidak akan pernah melupakan tanah yang memberi mereka napas.
Hari itu, foto-foto diambil. Tawa dan air mata bercampur. Dan ketika matahari sore perlahan menyinari gedung kampus, bendera-bendera itu tetap berkibar. Sebuah pesan tanpa kata, tapi begitu jelas: Papua tidak akan pernah diam.
Holandia 28 Agustus 2025
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.