Jeritan duri kisah piluh yang tak terduga oleh kaum marzinal
https://yigibalomyosua.family.blog

Jeritan Duri
Di sunyi malam yang menelan cahaya,
Aku berjalan di antara bayang dan luka.
Angin tak bersuara, langit pun membisu,
Hanya hatiku yang berteriak pilu.
Ada duri tumbuh dalam dada,
Tak terlihat, tapi tajam menyiksa.
Bukan karena pisau, bukan karena perang,
Tapi karena cinta yang ditinggal diam-diam.
Aku bicara pada bintang yang redup,
Tentang janji yang dulu hangat menyulut.
Kini jadi abu di angin yang kering,
Dan tangis pun tak mampu menyingkirkan perih.
Jeritanku tak bersuara,
Tapi menancap dalam kata yang hampa.
Seperti duri yang menusuk perlahan,
Tak membunuh, tapi tak memberi kehidupan.
Biarlah malam memeluk luka ini,
Sebab siang terlalu terang untuk kesedihan sunyi.
Dan bila esok tak menghapus perih,
Setidaknya puisi ini mengerti:
Bahwa aku pernah menangis tanpa suara,
Dalam sebuah jeritan duri yang tak terbaca.

Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.