Mengelola Dan Memajukan Ekonomi Rakyat Melalui Sumber Daya Alam (Suatu Kajian : Potensi SDA Kabupaten Lanny Jaya )

Mengelola Dan Memajukan Ekonomi Rakyat Melalui Sumber Daya Alam
(Suatu Kajian: Potensi SDA Kabupaten Lanny Jaya)

Oleh: Maiton Gurik

Negara Panda seperti China maju karena ekonomi pertanian dan perkebunan yang kuat. Amerika Serikat (AS) maju karena ekonomi pertanian yang terorganisir, teratur, terukur dan kompleks. Jepang maju karena ekonomi pertanian dan tanahnya dijadikan sebagai sumber segala pendapatan dan menuju pada ekonomi perdagangan. Korea, Philipina, Turki, dan hampir sebagian negara Eropa maju karena ekonomi pertanian, perkebunan dan hutan. Ekonomi Indonesia juga berkembang dan bergantung pada hasil pertanian seperti padi, serta perdagangan produk hutan; seperti buah tropis, perburuan hewan, tanaman resin, rotan dan kayu. Jadi, sumber daya alam (SDA) menjadi kekuatan dan kemajuan ekonomi bagi suatu bangsa. Seperti itu, kalau kita baca dan ikuti perkembangan ekonomi negara-negara maju dan negara-negara berkembang.

Pasar Dan Potensi SDA Ekonomi Masyarakat Lanny Jaya

Pasar Tiom (Kini: ibu kota Kabupaten Lanny Jaya) dan pasar Pirime dulu tempat sentral berdagang orang Lanny Jaya, kita sebut sebagai pasar tradisional. Orang Kuyawage datang bawah hasil panen sumber daya alam seperti bawang putih ke pasar Tiom sampai orang Kuyawage ada yang jalan kaki ke Wamena hanya bawah jualan bawang putih–saat itu belum ada taksi penumpang dan tidak se-ramai sekarang. Orang Pirime punya peternakan yang paling terkenal dulu yaitu; urabir (Kelenci) dan harganya lumayan murah dan tidak se-mahal sekarang, termasuk orang Tiom punya kadang piaraan kelinci yang cukup lumayan. Orang Malagaineri (kampugnya penulis), sumber daya alam itu identik dengan buah padang/kelapa hutan, dulu masyarakat Malagaineri datang bawah jualan ke pasar Tiom, disaat-saat musim panen.

Orang Magi punya sumber daya alam yang paling menonjol itu buah Markisa, sampai orang Magi bawah jualan ke Wamena karena paling dekat, jarang bawah jualan ke pasar Tiom saat itu. Orang Dimba, orang Poga dan orang Danime Tuhan kasih sumber daya alam namanya buah owandak (buah padang tapi temannya, dibuka bisa pakai tangan tidak terlalu kuat kulitnya). Orang Tiom Neri punya sayur-sayuran yang sangat subur dan segar. Orang Balingga punya sumber daya alam yang tidak kalah jauh dari distrik lain. Orang Indawa punya kacang Keledai yang alamiah dan rasanya sangat enak. Orang Lanny Jaya hampir semua punya milik kebun kopi dan kini lebih terkenal Kopi Tyom yang pasarannya ada dimana-mana dan rasanya postestur.

Dari 39 Distrik hampir sebagian punya sumber kekayaan alam yang sama, umbi-umbian dan kelapa hutan. Dalam artikel ini, penulis fokus pada salah satu potensi sumber daya alam yakni; kelapa hutan, karena kalau musim berbuah, masyarakat Lanny Jaya biasa menyelenggarakan kegiatan kolekte. Misalkan, orang Malagaineri undang orang Kuyawage, Balingga, Tiom Negeri dan Distrik lainnya untuk datang makan bersama dan se-baliknya kalau musim buah owandak (temannya kelapa hutan) biasa ada acara kolekte juga. Misalkan, orang Dimba, Poga dan Danime undang orang Magi, Beam dan Pirime untuk datang makan bersama, dari hasil kegiatan kolekte itu, biasa dapat menghasilkan uang yang tidak sedikit–ada nilainya.

Belum lagi, Tyalo (udang) salah satu sumber daya alam yang orang Kuyawage punya, sampai detik ini masih menjadi makanan pokok sehari-hari. Orang Dukom dekat kota Tiom punya sayur Koll dan Hortel yang paling segar sampai detik ini. Orang Gimbuk punya ubi tiate, salah satu nama ubi yang paling enak di Tiom Lanny Jaya dan harganya cukup terjangkau. Untuk peternakan Babi semua masyarakat Lanny Jaya punya kandang babi, terutama babi asli bukan babi Toraja. Beberapa, masyarakat Distrik juga punya budi daya ikan, seperti ikan emas, australia dan manila. Orang Lanny Jaya juga punya kerajinan tangan berupa gelang, kalung dan sali (rok tradisional), biasa hasil kerajinan tangan ini, dijual belikan dipasar Tiom bahkan sampai harganya, cukup terjangkau.

Pengembangan Sumber Daya Alam Masyarakat Lanny Jaya

Beberapa potensi sumber daya alam dan proses pemasaran itu, bukti pasar secara tradisional masyarakat Lani Jaya dulu sudah pernah terjadi jual beli hasil panen sumber daya alam. Walaupun dulu tanpa uang sebanyak sekarang tapi dulu cara transaksinya barang tukar dengan barang misalkan kelapa hutan tukar dengan noken gantung dan sebaliknya. Jadi cara pengelolaan dan kemajuan ekonomi orang Lanny Jaya dulu secara tradisional sudah ada dan itu dikendalikan oleh orang asli Lanny Jaya sendiri. Dan hal ini yang menjadi referensi dan alat ukur untuk mengelola dan memajukan ekonomi masyarakat Lanny Jaya secara modern sesuai dengan perkembangan jaman. Sehingga masyarakat Lanny Jaya tidak saja dimanjakan dengan uang yang besar (modal) tapi masyarakat Lanny Jaya bisa menjadikan hasil panen sumber daya alam itu sebagai pendapatan yang besar untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Pun, untuk ekonomi masyarakat jangka panjang, pemerintah perlu menyiapkan peralatan teknologi yang mapan agar pengelolaan sumber daya alam ini lebih berskala besar dan menghasilkan lebih banyak produk untuk pemasaran dibeberapa pasar yang ada di Papua Pegunungan.

Dalam konteks ini, pemerintah berperan penting untuk mendukung sekaligus membimbing masyarakat Lanny Jaya dalam pengembangan ekonomi yang lebih modern dan meningkatkan pendapatan yang cukup. Sehingga, hasil panen atau hasil produk sumber daya alam ini juga bisa diekspor ke Jayapura ataupun ke luar Papua, tetapi lebih jauh dari itu hasil panen bisa berputar antar distrik ke distrik di Kabupaten Lanny Jaya. Maju secara ekonomi barulah maju secara politik. Artinya kita jadikan pasar Tiom sebagai pusat kota ekonomi orang Lanny Jaya, baik ekonomi hasil panen sumber daya alam maupun pengoperasian pasar perdagagan yang berpihak kepada orang asli Lanny Jaya.

Era Teknologi Dan Peran Kelompok Pengusaha

Di era serba teknologi sekarang ini, kita bisa memanfaatkan hasil panen atau hasil produk sumber daya alam di atas, menjadi pijakan untuk mengelola dan memajukan ekonomi masyarakat Lanny Jaya yang lebih maju. Sumber daya alam milik orang asli Lani Jaya ini, harus diambil alih oleh organisasi pemerintah Kabupaten Lanny Jaya dan komunitas-komunitas pengusaha orang asli Lanny Jaya. Misalkan, salah satu komunitas Kamar Adat Pengusaha Papua (KAPP) Kabupaten Lanny Jaya bekerjasama dengan pemerintah, siapkan mesin produksi sekaligus siapkan alat transportasi untuk distribusi hasil panen ke setiap pasar 39 Distrik yang ada. Untuk menampung dan mengelola hasil panen tentu pentingnya pemerintah sediakan dan bangun 39 unit koperasi sebagai tempat pusat pengkoperasian ekonomi masyarakat setempat, guna perputaran ekonomi dimasyarakat sekitarnya. Hasil panen sumber daya alam ini juga bisa ekspor ke beberapa kabupaten tetangga sesuai dengan pesanan untuk pendapatan daerah.

Untuk mengelola dan memajukan potensi sumber daya alami ini, kita butuh sumber daya manusia orang asli Lanny Jaya yang handal dan berkualitas. Agar masyarakat yang juga sebagai pekerja perkebunan dan pertanian memahami dan mengelola cara pemasaran hasil produk dan hasil panen secara efektif dan efisien. Hal ini butuh kerjasama dan berkolaborasi yang komprehensif dari semua pihak seperti komunitas KAPP yang juga sebagai mitra kerja dalam membangun ekonomi masyarakat. Komunitas KAPP berperan sebagai fasilitator, di satu sisi KAPP hadir sebagai pelaku usaha tapi juga disisi lain KAPP muncul sebagai pembina masyarakat Lanny Jaya dalam hal pendidikan ekonomi masyarakat dengan SDM yang berkualitas agar turut ikut membangun negerinya melalu ekonomi melalui sumber daya alam yang ada di Kabupaten Lanny Jaya. Semoga!

Jayapura, 19 Juni 2024

Penulis: CEO & FOUNDER, Lembaga Riset Ekonomi Politik (Lempar) Papua

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai