
Kedaulatan Sejati telah dirampok bangsa kolonial modern firaun Indonesia
KAMI TIDAK PERNAH MENJADI BUDAK BANGSA LAIN SEJAK LELUHUR DI ATAS TANAH PUSAKA KAMI
Oleh Gembala DR. A.G. Socratez Yoman
“Selama puluhan tahun terakhir ini orang Papua sudah belajar banyak dari Indonesia tetapi sebaliknya Indonesia dan banyak pendatang sepertinya enggan untuk mau belajar sesuatu dari Papua. Tidak ada banyak pendatang yang sungguh berusaha untuk mengenal tanah Papua, manusia, bahasa, dan budayanya…..” (Pastor Frans Lieshout).
“….orang-orang yang dianggap primitif memberikan pelajaran tentang sopan santun kepada orang asing itu. Siapakah yang sebenarnya primitif” (Pastor Frans Lieshout).
Tanpa putar-putar dan berbelit-belit, dalam pembukaan tulisan ini, saya mau sampaikan, bahwa sudah waktunya Indonesia harus melepaskan bangsa Papua Barat sebagai bangsa merdeka dan berdaulat dan bangsa Papua Barat menjadi Negara tetangga Indonesia yang saling membagi sejarah masa lalu.
Bagi Indonesia, cost yang lebih murah tentang penyelesaian persoalan konflik Indonesia dengan bangsa West Papua ialah LEPASKAN rakyat dan bangsa West Papua untuk menjadi Negara Berdaulat dengan jalan damai dan bermartabat.
Saya mengajukan ayarat-syarat yang perlu disepakati antara bangsa Indonesia dan bangsa Papua Barat, sebagai berikut:
- Kerjasama di bidang pertahanan keamanan;
- Kerjasama dalam bidang ekonomi dan pendidikan;
- Rakyat Indonesia yang ada di West Papua diberikan jaminan keamanan dan hak hidup;
4. Mediasi dan Rekonsiliasi penyelesaian pelanggaran berat HAM untuk menuju perdamaian permanen dan keharmonisan hidup antar dua bangsa sebagai tetangga;
- West Papua dijadikan Negara tujuan tempat Tenaga Kerja Indonesia (TKI).
- Dana-dana besar untuk biaya operasi militer di Papua dan biaya operasi diplomasi tentang masalah Papua di luar Negeri selama ini, sebaiknya diarahkan dan digunakan untuk membayar atau melunasi hutang-hutang luar Negeri Indonesia yang mencapai 7.000 milyar itu.
7. Investasi beberapa jenderal dari TNI dan Polri baik yang masih aktif maupun pensiunan akan dinegosiasikan kembali dengan pendekataan berkeadilan dan saling menguntungkan kedua belah pihak.
- Para pembaca bisa tambahkan syarat yang lain sesuai kebutuhan dua bangsa dan tidak merugikan antar dua bangsa.
Pemerintah dan anggota TNI/Polri sudah saatnya berpikir, melangkah, dan bertindak dengan rasional, realistis, dan profesional, manusiawi dan bermartabat.
Kita jangan perpanjang kesengsaraan umat Tuhan pemilik negeri dan tanah ini. Kita harus akhiri penderitaan rakyat West Papua dengan cara bermatabat. Hak hidup dan hak politik mereka harus dikembalikan.
Tentu saja muncul pertanyaan-pertanyaan dari berbagai pihak, terutama penguasa Indonesia.
1. Apakah Penduduk Orang Asli Papua sudah siap merdeka dan mengantur diri sendiri?
- Barameter apa yang dipakai untuk melihat kesanggupan dan kemampuan Penduduk Asli Papua merdeka dan berdaulat?
Orang Asli Papua tahun 1960-an sudah belajar di beberapa universitas di Belanda. Contohnya Fritz Kihirio dan kawan-kawan.
OAP sudah mampu mengornaisir diri dan mendirikan sebuah Negara pada 1 Desember 1961 lengkap dengan atribut kebangsaan. Pada 19 Desember 1961 Indonesia aneksasi atau invansi militer atas kedaulatan dan kemerdekaan rakyat dan bangsa Papua Barat 1 Desember 1961 dengan maklumat Tiga Komando Rakyat (Trikora). Salah satu bukti penting sebagai pengakuan bangsa Indonesia ada negara yang dibubarkan: “Bubarkan Negara Papua Buatan Belanda.”
Sebelum 1 Desember 1961, kemerdekaan dan kedaulatan penuh Penduduk Orang Asli Papua sudah ada sejak leluhur dan nenek moyang.
Saya mengambil contoh dari suku saya, suku Lani yang hidup di bagian Papua Pegunungan yang dilihat atau distigma dan dilabel masyarakat yang belum maju.
DR. Leo Laba Ladjar, OFM, Uskup Jayapura, dalam kata pengantar buku:
“Sejarah Gereja Katolik di Lembah Balim-Papua: Kebudayaan Balim Tanah Subur Bagi Benih Injil” (2009) diakui sebagai berikut:
“….Kesan orang ekspedisi itu ialah bahwa penduduk asli itu sudah punya peradaban yang tinggi. Orang-orang penduduk Lembah itu berpandangan luas, semangat kerjanya tinggi, berbakat besar untuk pertanian” (2009:xii).
Pastor Frans Lieshout, OFM, kebangsaan Belanda ini mengakui kemerdekaan dan kedaulatan Penduduk Orang Asli Papua sebagai berikut.
“Saya masih mengingat masyarakat Balim seperti kami alami waktu pertama datang di daerah ini. Kami diterima dengan baik dan ramah, tetapi mereka tidak memerlukan sesuatu dari kami, karena mereka sudah memiliki segala sesuatu yang mereka butuhkan itu. Mereka nampaknya sehat dan bahagia, …Kami menjadi kagum waktu melihat bagaimana masyarakat Balim hidup dalam harmoni…dan semangat kebersamaan dan persatuan…saling bersalaman dalam acara suka dan duka…” ( Sumber: Kebudayaan Suku Hubula Lembah Balim-Papua, 2019, hal. 85-86).
Lebih lanjut Pastor menggambarkan kehidupan Pendauduk Orang Asli Papua dengan tepat, sebagai berikut:
“Waktu Mr. Lorentz diberikan kehormatan untuk membagikan daging babi itu kepada para anggota rombongannya, ia sendiri mencicipi sedikit terlebihi dahulu dari daging itu; rasanya enak sekali! Tetapi tuan rumah menegur dia, ia harus membagi dulu kepada yang lain dan sesudah itu baru ia boleh makan bagian dia sendiri. (Situasi ini lucu sekali, karena orang-orang yang dianggap primitif memberikan pelajaran tentang sopan santun kepada orang asing itu. Siapakah yang sebenarnya primitif” (2009:4).
“Anggota ekspedisi sangat menggangumi masyarakat yang memiliki pengetahuan dan ketrampilan tinggi di bidang pertanian. Kebun-kebun dan parit-parit di dalamnya kelihatannya seperti di daerah pertanian di Eropa. Selain itu masyarakat Balim juga sangat cerdas, buktinya jembatan gantung di atas sunggai Balim yang baik dan kuat” (2009:14).
“Kami melihat sebuah jembatan gantung buatan tangan manusia. Rombongan orang Dayak meragukan kekuatan jembatan itu dan tidak berani memakainya seperti nereka biasanya kurang menghargai orang Papua. Kami menyebrangi kali itu lewat jembatan yang ternyata baik dan kuat. Kami mengagumi karya teknik mereka itu dan kebun-kebun tebu, ubi dan keladi yang sungguh terawat dengan baik. Mereka bukan manusia ‘primitif’” Kami tidak membayangkan akan bertemu manusia seperti itu….Masyarakat yang sederhana dan polos ini hidup bersama dalam suasana damai” (2009:8).
“Hampir seluruh tanah mereka adalah kebun yang dipagari dengan baik. Jalan-jalan setapak dari kampung satu ke kampung yang lain terkesan terawat rapih dan rumah-rumah mereka berkelompok dengan halaman yang bersih dan teratur” (2009:9).
“….orang-orang yang ramah, bersahabat dan sopan. Kagum, karena orang-orang Dani ( baca:Orang-orang Asli Papua) itu, meskipun masih hidup di zaman batu namun mempunyai peradaban dan kebudayaan tinggi, mempunyai ketrampilan untuk bertani dan menggarap tanah secara intensif, memiliki teknik tinggi untuk membangun sistem irigasi, jembatan gantung dan pagar-pagar dengan tekun dan teliti, membangun dan memelihara rumah-rumah mereka dengan rapi dan bersih sersta sssuai dengan iklim dan alam hidup mereka.” (2009:17)..
“Maka dapat dibayangkan situasinya, di mana orang-orang Balim sejak zaman nenek moyangnya mengatur hidupnya sendiri” (2009:42).
“Orang Balim hidup bersama dalam semangat otonom dan bebas. Kekuatan orang Balim terletak dalam kebersamaan. Orang Balim sejati sebenarnya tidak mengemis dan bangga atas dirinya hidup secara mandiri sejak leluhur.” (2009:363).
“Saya sendiri pun belajar dari manusia Balim (Papua) yang begitu manusiawi. …Mereka (OAP) pasti tidak menyadari bahwa kami telah banyak belajar dari mereka daripada sebaliknya.” (Pastor Frans Lieshout,OFM-2009:xviii; hal.9).
Ada hal yang kontras dari perilaku orang-orang Indonesia yang berwatak rasis datang ke Tanah bangsa Papua digambarkan dengan baik oleh Pastor Frans Lieshout, sebagai berikut:
” Selama puluhan tahun terakhir ini orang Papua sudah belajar banyak dari Indonesia tetapi sebaliknya Indonesia dan banyak pendatang sepertinya enggan untuk mau belajar sesuatu dari Papua. Tidak ada banyak pendatang yang sungguh berusaha untuk mengenal tanah Papua, manusia, bahasa, dan budayanya dan biasanya seseorang tidak dapat mencintai apa yang ia tidak kenal. Dalam program-program pembangunan sering kurang diperhatikan dan dihargai kearifan-kearifan lokal seakan-akan Papua harus menjadi kopi dari daerah-daerah lain di Indonesia tanpa suatu warna lokal Papua. Kiranya tidak cukuplah untuk berulang-ulang kali memproklamasikan Tanah Papua sebagai Tanah Damai” (2009:385-386).
Pengakuan Pastor Frans Lieshout mempertegas atau mendukung kebenaran kemerdekaan dan kedaulatan Penduduk Orang Asli Papua. Saya ambil salah satu contoh dari suka saya sendiri, orang Lani.
Doa dan harapan saya, bahwa tulisan saya membuka perspektif baru untuk para pembaca.
Selamat membaca. Tuhan memberkati.
Ita Wakhu Purom, Kamis, 6 April 2023
Penulis:
- Presiden Persekutuan Gereja-gereja Baptis West Papua.
- Anggota: Dewan Gereja Papua (WPCC).
3 Anggota Konferensi Gereja-gereja Pasifik (PCC) - Anggota Baptist World Alliance (BWA).
NO WA: 08124888458;
NO HP: 08128888712
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.