
DIALEKTIKA SOSIALISME PAPUA
(Studi Kajian Pada Suku Lani)
Oleh: Maiton Gurik
Sosialisme Eropa. Dari berbagai literatur atau buku-buku bacaan menyebutkan istilah sosialisme diciptakan oleh seorang sosialis Prancis yakni Etienne Cabet (1788 -1856). Istilah ini berasal dari bahasa latin; ‘Communio’ yang artinya; kepunyaan bersama atau milik bersama. Sosialisme merupakan salah satu paham atau ideologi yang berdasar pada usaha kolektif yang produktif dan membatasi milik individual sehingga harta benda, industri, dan perusahan menjadi milik negara yang bertujuan untuk mewujudkan masyarakat sosial yang sejahtera dan setara. Adanya sosialisme sangat berpengaruh pada masyarakat zaman industrialisasi saat itu, karena dengan adanya paham sosialisme kelas yang terdapat pada masyarakat terhapus dan mereka mendapat hak-hak mereka sama-sama rata dan sama-sama rasa.
Karena itu, semua hasil keuangan yang didapatkan dari perusahan diatur oleh negara agar pembagian hasil dapat merata, terutama bagi kaum pekerja atau buruh. Hal ini bertujuan semata-mata untuk kesejahteraan masyarakat. Selain itu, paham sosialisme juga menghapus golongan kaya dengan golongan miskin dan pemerintah yang bertanggung jawab terdahap masalah perekonomian masyarakat. Tetapi, kekurangan dari sosialisme adalah adanya pembatasan hak perorangan dalam pengembangan perusahan sehingga daya kreativitas masyarakat tidak bebas dan tidak produktif.
Munculnya paham ini awalnya di wilayah Eropa sebagai kota-kota industrialisasi karena perusahan-perusahan baik yang milik pribadi ataupun milik swasta. Jadi, Eropalah yang menyebabkan sosialisme ini muncul demi mengembangkan perusahan-perusahan yang ada. Pekerja atau buruh ini disebut kaum proletar dan sedangkan pemilik perusahan ini yang disebut kapitalis. Namun, dalam prakteknya buruh tidak diperlakukan dengan layak melainkan mereka diberi upah yang sangat rendah dan hasil keuntungan besar dari perusahan itu hanya dinikmati oleh kaum kapitalis.
Hal inilah yang membuat para buruh atau pekerja bersatu untuk memperjuangkan hak mereka demi mendapatkan upah yang layak, hak-hak buruh yang sesuai dan akhirnya membentuk satu komunitas yang dinamakan golongan sosialis atau golongan yang memperjuangkan hak-hak mereka–kaum buruh. Tujuan dari paham atau ideologi sosialisme muncul untuk menghilangkan kelas sosial antara golongan kapitalis dengan golongan proleter dan menjunjung tinggi prinsip-prinsip kesetaraan sosial.
BAGAIMANA DENGAN DIALEKTIKA SOSIALISME PAPUA PADA SUKU LANI?
Suku Lani yang mendiami di wilayah Papua Pegunungan Bagian Barat, sebelum Injil masuk atau sebelum ideologi sosialisme ini muncul ataupun sebelum pemerintahan Indonesia hadir di tanah suku Lani, pada dasarnya hidup sudah dengan cara komunal atau berkelompok sampai saat ini. Gaya hidup itu, bisa dapat melihat dari cara memproduksi sesuatu misalnya cara berkebun, cara membuat rumah, cara membuat pagar, dan cara bakar batu pun dengan cara berkelompok atau bersama-sama. Contoh, cara memproduksi kebun, suku Lani kampung A biasanya sampaikan pengumuman untuk merencanakan berkebun atau sepakati waktu. Tibanya waktu kesepakatan untuk berkebun, semua laki-laki dari kampung A tersebut ambil tegge (alat kerja sikop tradisional) atau jee (alat kerja kapak tradisional) dan alat kerja lainnya turun bekerja sambil kwa-kwa (teriak-teriak) dan bagi perempuan (ibu-ibu) tugasnya masak menyiapkan makan siang lalu dari rumah bawah ke tempat kerja atau kadang para pekerja kebun (laki-laki) pulang kerumah sekaligus makan siang, besoknya lanjut kerja.
Sampai tiba waktunya menanam bibit seperti ubi-ubian atau sayur-sayuran, gilaran perempuan (ibu-ibu) yang berperan aktif bagian tanam menanam sesuai dengan bedeng yang mereka dapatkan masing-masing kepala keluarga. Akhirnya pun suku Lani kampung A ini panen hasil berkebun bersama-sama dan berbagi juga bersama-sama, misalkan kepada kampung B berbagi hasil panen ke kampung B dan sebaliknya. Ada pula satu kebiasaan hidup suku Lani, yakni; cara masak dengan bakar batu, biasanya suku Lani sebelum masak bakar batu mereka merencanakan waktu masak bakar batu, tempat, dan bahan-bahan makanan yang akan masak. Perencanaan itu dilakukan dalam pertemuan kecil dan dihadiri beberapa orang terpercaya (katakanlah panitia kecil diketuai salah satu orang). Jadi, suku ini kalau mau kerja alat produksinya dengan tenaga manusia dan tidak seperti negara-negara industri yang disebutkan sosialisme eropa yang serba mesin dan robot sebagai alat produksi.
Dari cara memproduksi, menanam, memanen dan berbagi hasil panen antar kampung A dengan kampung B atau antar tetangga A dengan tetangga B ini salah satu dari sekian banyak kebiasaan hidup suku Lani yang bisa kita katakan Suku Lani itu sesungguhnya adalah sosialis atau sudah menjiwai idelogi sosialisme di wilayahnya sebelum sosialisme eropa muncul, (lebih jelas baca artikel Dr.Socratez Yoman, berjudul: ‘Orang-Orang Suku Lani Adalah Sosialis Sejati Yang Berideologi Sosialisme).
Dari perspektif sosialisme, suku Lani bisa dikategorikan sebagai salah satu Suku di Papua yang sudah berideologi sosialisme. Sebab, Suku Lani hidupnya berdampingan dan berkelompok demi kesejahteraan bersama dengan cara berkebun dan hasil panen nya bisa berbagi rata, walaupun Suku Lani saat itu dan mungkin saat ini tidak punya industri- industri canggih dan besar seperti Eropa yang menciptakan kaum kapitas dan memeras kaum proletar atau pekerja buruh, dengan cara pemilik industri dapat hasilnya lebih besar dan pekerja buruh dapat hasilnya rendah dan hal itu menghasilkan kelas-kelas sosial yang mengakibatkan munculnya sosialisme yang kita bahas dalam tulisan ini. Hal ini yang juga para tokoh pelopor terkemuka sosialisme seperti Karel Marx dan Friedrich Engels, yang mengkritik keras adanya golongan kapitas dan menghapus adanya kelas-kelas sosial. Sebagai tesis dan silahkan diuji, penulis mau sampaikan satu paham dalam kajian ini yakni; ‘LANIISME’ yang juga mengkritik keras adanya kelas-kelas sosial dan melawan binatang yang bernama kapitalisme di Suku Lani dan pada umumnya di Papua. Semoga!
Holandia, 24 Mei 2023. Maiton Gurik, Pengiat Literasi Papua. Pedagang Buku.
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.