oleh yigibalomyosua https://ww.ac.id

Mama kadang Ia lelah dan kadang istrahat di tengah jalan, ditengah setelah buat kebun. Bahkan, ketiduran di kebun belantara hutan. Ada satu hal, ketika terbangun Ia akan mencari dimana anaknya dan melihat matahari pada waktu yang sama-an. Cape karna buat kebun dan memasak, kadang marah-marah buat kedepan baik.
Dari tahun ke tahun ia hanya tau kebun dan rumah. Kebebasan dalam dunia tidak ada. Kebebasannya juga dibatasi oleh patriarky budaya. Persaingan di dunia pertanahan dan persaingan dengan keluarga lain. Bahkan, Ia hanya tunduk dan mendengar oleh lelaki-lelakinya yakni “tak ada berikan hak suara” budaya mengatur patriarky membatasi perempuan berbicara dimuka umum. Karna alasan patriarky yang melekat bahwa perempuan adalah “Second class”. Mama Ia memang sangat penting cuma pembatasan ruang geraknya tidak ada.
Cara patriarky ini telah membawa ke generasi sekarang bahwa perempuan harus tunduk pada laki-laki dan itu memang realitas hari ini. Memetakan soal patriarky dengan theory revolusioner yakni “kesetaraan jender, kehidupan yang sosialis” ini akan membentuk tatanan yang adil secara budaya, sosial, politik dan sejarah untuk sebuah manifesto kesetaraan perjuangan bersama.
Pada satu titik, Mama Ia menjelaskan masalah-masalah yang keterkaitan tapi tidak sempat di forum umum, Namun itu pada saat anaknya bersamanya hingga curhat sampai dalam. Persoalan yang dialami secara universal bahkan Ia sangat teliti dalam bicara namun butuh mendengarkan apa yang Ia utarakan. Persoalan-persoalan itu, Ia mampu menjelaskan secara rinci dan sangat analis.
Di tulis oleh abang kianus mirip
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.