
Orang Papua, Mari Banyak Baca
Orang Papua tdk membaca buku, berarti kt membiarkan diri kita hanya berjalan dgn satu kaki. Kita hanya mengandalkan pengetahuan yg terbatas, sementara orang lain berjalan sdh sepuluh langkah dgn pengetahuan yg luas, mendalam, & lengkap. Membaca buku berarti menemukan ide alternatif, mengulang bicara, mengkoreksi diri, menambal kewarasan berpikir yg bolong & membongkar cacat berpikir. Tanpa hrs berjalan jauh keluar negeri, tanpa harus menunggu pengalaman pahit, lewat buku kt bisa belajar dari pengalaman bangsa lain, belajar dari kesalahan masa lalu, & mengambil hikmah dari kejayaan peradaban lain. Orang Papua wajib membaca agar tdk tertinggal, agar tahu apa yg terjadi di sekitarnya, & agar paham bagaimana cara kerja dunia ini. Membaca adalah cara tercepat & termudah untuk menjadi pintar, cerdas, kritis, rasional & berwawasan luas.
Selama berpuluh2 tahun, bahkan berabad-abad, masalah utama yg dihadapi org Papua adalah ketimpangan penguasaan pengetahuan. Bnyk kekayaan alam kt dikeruk oleh org asing, bnyak perjanjian dibuat, bnyak aturan ditetapkan, & bnyak kebijakan dijalankan, namun sering kali kt sbagai pemilik tanah hnya menjadi penonton atau objek yg pasif. Mengapa? Karena ketidaktahuan. Karena kita tdk membaca, tdk memahami isi peraturan, tdk paham isi kontrak, & tidak mengerti nilai sebenarnya dari apa yg kita miliki.
UU Otsus No.21 thn 2001 adalah contoh nyata. Itu adalah “buku besar” yg berisi segala hak istimewa, kewenangan, & kekuasaan yg diberikan negara kpd orang Papua. Di dalamnya tertulis hak atas tanah, hak mengelola sumber daya alam, hak atas dana khusus, hak pendidikan, hak budaya, & hak politik. Namun, apa gunanya UU itu jika kita tdk membacanya? Apa gunanya hak itu jika kita tdk paham cara menggunakannya?
Org Papua wajib membaca agar paham akan haknya sendiri. Org Papua wajib membaca agar bisa duduk setara di meja perundingan dgn siapa pun—baik dgn pemerintah pusat, dgn investor besar, maupun dgn ahli2 dari luar negeri. Kita tdk boleh lagi menjadi bangsa yg dijajah oleh ketidaktahuan. Kita tdk boleh lagi tanda tangan dokumen yg isinya merugikan kita hanya karena tdk membaca atau tdk mengerti. Kita tidak boleh lagi membiarkan kekayaan tanah ini dinikmati pihak lain karena kita tdk tahu cara mengolahnya. Semua jawaban itu ada didalam buku: buku hukum, buku ekonomi, buku pertanian, buku teknik, buku administrasi, buku sejarah, buku kiri, dan buku-buku pengetahuan lainnya.
Ketika orang Papua bnyak membaca, maka kekuasaan akan kembali ke tangan yg berhak. Pengetahuan yg didapat dari buku akan mengubah posisi kita dari sekadar pemilik tanah yg diam sj, menjadi pengelola cerdas yg memimpin, mengawasi, & mengambil manfaat sebesar2nya dari apa yg ada di tanah kelahiran sendiri. Membaca buku adalah syarat mutlak agar Otsus tdk menjadi sekadar nama, tetapi menjadi kenyataan kesejahteraan.
Ada kekhawatiran yg sering muncul: “Kalau kami banyak membaca buku dari luar, nanti hilang budaya & adat istiadat kami.” Ini adalah pemikiran yg keliru. Justru sebaliknya, orng Papua wajib banyak membaca dan menulis agar budaya & adat istiadat itu abadi, terhormat, & dikenal dunia.
Buku tdk hanya berisi pengetahuan orang luar. Buku jg tempat terbaik untuk menyimpan pengetahuan kita sendiri. Nenek moyang kita dulu tdk memiliki banyak tulisan, sehingga sejarah kita pernah ditulis oleh orang lain. Dan sayangnya, sejarah yg ditulis orang lain sering kali tdk lengkap, tdk benar, atau menampilkan kita dari sudut pandang yg rendah & salah.
Membaca buku menguatkan jati diri. Dengan membaca sejarah dunia & sejarah bangsa lain, kita baru bisa membandingkan & menyadari betapa berharganya budaya kita sendiri. Kita baru bisa tahu letak kekhasan & kebesaran nenek moyang kita. Orng yg tdk membaca, biasanya orng yg meremehkan budayanya sendiri atau orng yg fanatik buta. Org yg banyak membaca, akan menjadi orng yg bangga pada asal-usulnya sekaligus terbuka menerima hal baik dari luar. Membaca adalah jembatan agar kita bisa berdialog dgn dunia, tanpa kehilangan akar kita.
Kekayaan alam Papua luar biasa besar. Emas, tembaga, minyak, gas, kayu, ikan, tanah yg subur, & potensi pariwisata yg tiada duanya. Namun, fakta pahit yg kita lihat hari ini: di tengah kekayaan itu, masih banyak orang Papua yg hidup miskin, kekurangan gizi, & tertinggal secara ekonomi. Mengapa hal ini bisa terjadi? Jawabannya satu: kekurangan pengetahuan.
Kekayaan alam tdk akan berubah menjadi uang, lapangan kerja, atau kesejahteraan rakyat jika tdk ada pengetahuan untuk mengolahnya. Emas yg ada di tanah tdk ada gunanya jika kita tdk tahu cara menambang dgn benar, tdak tahu cara mengolahnya, tdk tahu berapa harga pasarannya, & tdk tahu cara mengelola keuntungannya. Semua pengetahuan teknis itu ada di dalam buku.
Orang Papua wajib bnyak baca buku ttg pertanian, peternakan, perikanan, teknologi, kewirausahaan, & ekonomi. Kita harus belajar bagaimana bangsa lain yg tanahnya tandus & miskin alam bisa menjadi negara kaya & maju, semata-mata karena mereka pintar, karena mereka banyak belajar, & karena mereka menguasai ilmu pengetahuan.
Membaca buku mengubah pola pikir dari “menunggu bantuan” menjadi “menciptakan kemajuan”. Ketika pemuda Papua rajin membaca buku pertanian modern, dia akan tahu cara menanam lebih banyak hasil di tanah yg sama. Ketika pemuda Papua membaca buku ekonomi kreatif, dia akan tahu bagaimana mengubah ukiran kayu atau kain adat menjadi barang mahal yg diburu dunia. Ketika kita pintar membaca & paham ilmu, kita tdk perlu lagi bergantung pd tenaga ahli dari luar untuk membangun tanah kita sendiri. Kita yg akan menjadi ahlinya, kita yg akan menjadi pengusahanya, & kita yg akan menikmati keuntungannya__itulah kemandirian sejati.
Tanah Papua sering kali diuji dgn masalah sosial, konflik, kekerasan, pertengkaran, & perpecahan antar saudara. Kita sering melihat pemuda & rakyat mudah terprovokasi, mudah percaya berita bohong, mudah terpecah belah, & mudah terlibat bergaulan buruk yg justru merugikan diri sendiri & tanah air. Akar dari semua masalah sosial itu adalah kurangnya pengetahuan & rendahnya kemampuan berpikir kritis.
Buku adalah obat paling ampuh untuk menyembuhkan penyakit ini. Orng yg bnyak membaca akan memiliki wawasan yg luas. Dia akan tahu sejarah, dia akan tahu akar masalah, dia akan tahu hukum, & dia akan tahu dampak dari setiap tindakan. Orng yg banyak membaca tdk akan mudah dibohongi oleh berita palsu atau janji manis yg tdk berdasar. Orng yg berilmu akan berpikir panjang sebelum bertindak, akan menyelesaikan masalah dgn kepala dingin & akal budi, bukan dgn emosi atau kekerasan.
Karena rakyat yg terpelajar, yg bnyak membaca, & yg berwawasan luas adalah rakyat yg menjunjung tinggi persatuan, yg mencintai kedamaian, & yg mampu membedakan mana yg benar & mana yg salah. Membaca mengubah pemuda dari kekuatan fisik yg berbahaya menjadi kekuatan pikiran yg membangun. Jika kita ingin Papua damai, maju, & bersatu, maka wajibkanlah membaca buku di setiap kampung, disetiap gereja, disetiap komunitas, disetiap gang, disetiap rumah adat, & disetiap keluarga.
Memang harus kita akui, jalan menuju budaya baca di Papua masih berat. Banyak tantangan. Buku masih barang mahal & langka, terutama di daerah pedalaman. Perpustakaan belum merata. Bahasa menjadi kendala bagi sebagian saudara kita. Dan yg terberat: kebiasaan membaca belum tumbuh kuat & masih rendah.
Namun, tantangan itu tdk boleh dijadikan alasan untuk berhenti. Justru karena berat tantangannya, maka kewajiban itu semakin besar. Pemerintah daerah melalui Dana Otsus wajib mengalirkan uangnya untuk mendatangkan jutaan buku ke seluruh pelosok Papua. Tokoh agama & tokoh adat wajib mengajarkan pentingnya membaca. Dan yg paling penting, setiap individu orng Papua wajib menumbuhkan rasa haus akan ilmu. Jangan menunggu disuruh. Jangan menunggu buku datang ke tangan. Cari, pinjam, beli, tukar, & baca apa saja yg bermanfaat.
Ingat kata2 bijak: “Jika kamu membakar buku, kamu sedang membakar masa depan bangsamu.” Sebaliknya, “Jika kamu membaca buku, kamu sedang membangun istana kemajuan bagi anak cucumu.”
Bnyak baca buku adalah taktik singkat dari perjuangan panjang menuju kemerdekaan sejati. Kemerdekaan bukan hnya bebas dari penjajahan fisik, ttpi bebas dari kebodohan, bebas dari ketergantungan, bebas dari ketidaktahuan, & bebas dari penindasan.
Buku adalah kunci yg membuka pintu segala kemungkinan. Lewat buku, orng Papua akan paham haknya, akan mampu mengelola kekayaan negerinya, akan melestarikan budayanya dgn bangga, akan membangun ekonomi yg mandiri, & akan menjaga persatuan serta kedamaian. Tdk ada jalan pintas menuju kemajuan. Tdk ada bangsa yg besar & dihormati dunia tanpa menjadi bangsa yg gemar membaca & ber-ilmu pengetahuan.
Mulai hari ini, mari kita ubah cara pandang. Membaca buku bukan kegiatan orng kota sj, bukan kegiatan orng kaya saja, & bukan kegiatan orng luar saja. Membaca buku adalah kewajiban setiap orng Papua, dari pejabat tertinggi hingga anak2 di kampung paling terpencil.
Belilah buku, Bukalah, bacalah, pahamilah, & amalkanlah. Karena hnya dgn buku yg banyak dibaca, tangan orng Papua akan memegang kendali penuh atas nasib tanah Papua. Hanya dgn buku, kita akan berdiri tegak, lurus, cerdas, & bermartabat setara dgn bangsa lain dimuka bumi ini. Semoga!
Salam Literasi,
Jayapura (Petiga), 27 Mei 2026
Maiton Gurik,
Pegiat Literasi Papua
@sorotan
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.