Selamatkan Mama Yasinta dimulai dr membaca pola intelijennya.

Tuan Victor Yeimo

Selamatkan Mama Yasinta dimulai dr membaca pola intelijennya. Mama Yasinta dijadikan titik masuk operasi intelijen kolonial yg sedang krisis hegemoni dan legitimasi moral. Bagaimana polanya: Pertama, operasi Pengalihan Isu (Diversion Operation) yakni publik diarahkan membahas konflik personal, legalitas teknis, drama media, dan pertentangan individu.

Sementara pertanyaan utama dikaburkan: siapa yg diuntungkan dari proyek di Papua, mengapa kritik masyarakat adat begitu ditakuti, dan mengapa aparat begitu aktif mengelola persepsi terhadap satu film dokumenter. Ini adalah pola klasik operasi pengalihan: menciptakan kebisingan agar substansi tenggelam.

Kedua, Operasi Pemecahan Internal (Fragmentation Strategy). Dalam teori kontra-insurgensi modern, gerakan paling mudah dihancurkan bukan dari luar, tetapi dr dlm . Karena itu yg diserang pertama bukan massa, melainkan kepercayaan internal.

Tokoh yg dianggap paling rentan: ditekan, diisolasi, dipengaruhi, atau diposisikan berhadapan dg gerakannya sendiri. Jika benar terdapat dugaan intimidasi, tekanan psikologis, pengondisian media, atau penggunaan aparat terhadap Mama Yasinta, maka itu sangat sesuai dengan pola fragmentation strategy: memecah solidaritas agar gerakan kehilangan pusat moralnya.

Ketiga, Operasi Pembentukan Persepsi (Perception Management). Dalam operasi intelijen modern, tujuan utama bukan selalu membuktikan negara benar. Yang lebih penting adalah membuat publik ragu terhadap pihak yg mengkritik. Maka narasi dibentuk sedemikian rupa agar: pembuat film terlihat bermasalah, gerakan terlihat kacau, masyarakat adat terlihat tidak konsisten, dan kritik terhadap negara kehilangan kredibilitas.

Michel Foucault menjelaskan bahwa kekuasaan bekerja dg menentukan siapa yg dianggap memiliki kebenaran. Karena itu penguasaan media, pembentukan opini, dan pengondisian simbol menjadi bagian utama dari operasi politik modern.

Keempat, Operasi Perebutan Simbol (Symbolic Capture). Mama Yasinta bukan hny individu. Ia adalah simbol moral masyarakat adat. Karena itu yg diperebutkan bukan skadar keterangannya, tetapi makna politik yg melekat pd dirinya.

Pierre Bourdieu menyebut ini sbg symbolic violence: menghancurkan perlawanan dg merebut simbolnya sendiri. Ketika tokoh adat dipertontonkan utk menyerang kembali perjuangan yg sebelumnya ia suarakan, maka publik mulai meragukan keseluruhan gerakan.
Ini jauh lebih efektif daripada represi terbuka.

Kelima, Operasi Normalisasi Kolonialisme Modern. Ia bekerja melalui: proyek strategis, investasi, media, aparat, dan kontrol narasi. Karena itu ketika negara terlihat sangat sibuk mengatur persepsi terhadap satu dokumenter, itu menunjukkan bahwa yg dipertaruhkan bukan sekadar citra film, tetapi legitimasi seluruh proyek kekuasaan di Papua.

Atas dasar itu, perjuangan menyelamatkan Mama Yasinta tdk boleh dipisahkan dari perjuangan membongkar struktur kekuasaan di balik kasus ini. Langkah yg hrs segera dilakukan:

  • Mendesak melakukan investigasi independen atas dugaan intimidasi, pembatasan kebebasan menentukan sikap, dan penggunaan aparat terhadap tokoh adat.
  • Meminta memberikan perlindungan serta memastikan Mama Yasinta memiliki akses komunikasi dan pendampingan hukum yang bebas dari intervensi.
  • Mengirim urgent appeal kepada meknaisme ham nadional dan internasional terkait dugaan tekanan terhadap pembela masyarakat adat dan manipulasi representasi masyarakat adat Papua.
  • Mendokumentasikan seluruh proses secara hukum, media, dan forensik agar fokus publik tetap tertuju pada dugaan kejahatan struktural negara-korporasi, bukan tenggelam dalam konflik personal yang sengaja diproduksi.

Sumber informasi edisi dini hari milik Akun melalu FB Viktor yeimo jam 06 :Wit waktu Papua 

Tulisan Tuan Viktor yeimo

Selamat anda membaca dan memahami semoga bermanfaat bagi anda dan seluruh umat manusia di tanah Papua. Good Bless you

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai