

Papua itu tempat eksperimen, bagi mereka yang katanya dilatih untuk keamanan Negara,
Tetapi menjadikan manusia tak berdosa menjadi objek percobaan, tima panas yng merenggut nyawa, sisa dari yg tersisa
Pancasila itu seperti seorang ayah,
yang memperkosa anaknya sendiri.
Sebab Mereka sendiri yang melahirkannya,
sebagai dasar negara hasil kumpulan ide,
manusia-manusia serakah
namun mereka sendiri pula yang melanggarnya.
hukum itu hanya bagi mereka yang punya uang,
dan keadilan, kedamaian itu hanyala sebuah mitos.
Pejabat papua pura-pura butah,
pura-pura tra dengar, pura-pura tra tauh, karna
tidur nyaman di kamar berase, menikmati hasil rakyat,
duduk nyaman di kursi empuk,
rakyat menderita diperbudak seolah tak punya martabat.
Mereka takut kehilangan satu jabatan
, tapi tidak takut kehilangan seribu nyawa,
Mereka takut nama mereka dicoret,
tapi tidak takut nama anak kecil,
ibu hamil, dan nama orang tua ditulis dikayu salib.
Rakyat berteriak di di sela-sela hujan peluruh,
, entah siapa yang mendengar teriakkan derita?
, peluruh melayang, menembus bahu,
entah siapa yg menolong?
Puluhan nyawa tumbang semenit,
hukum tak berpihak, lantas gereja tutup mata
Dan seketika
Gereja berdiri di mulut liang kubur, lantas berdoa,
semuanya rencana Tuhan,
tapi apakah kita pernah bertanya bahwa, “Benarkah Tuhan memiliki rencana sekejam itu?”
Gereja harus jujur, dan berpihak pada rakyak,
seperti Yesus, yang mati untuk umatnya yang ditindas oleh Raja herodes.
Oleh : 𝓞𝓷𝓮 𝓢𝓮𝓱𝓪𝓷𝓭
Papua, 26 April 2026
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.