KETIKA SENYATA LEBIH NYARING DARI HATI .!

“Ketika Senjata Lebih Nyaring dari Hati”

Di Puncak Jaya, suara hukum terdengar seperti gemuruh,
bukan karena keadilan ditegakkan,
melainkan karena peluru lebih cepat bicara
daripada nurani yang seharusnya memimpin.

Di tanah ini, rakyat tak pernah meminta perang,
mereka hanya ingin pagi yang utuh,
namun yang datang justru langkah-langkah bersenjata
yang mengubah rumah menjadi ketakutan.

Siapa yang menjaga, dan siapa yang melukai?
Pertanyaan itu menggantung di tanah Papua
ketika seragam yang seharusnya melindungi
justru hadir bersama bayang kehilangan.

Nama-nama hilang tanpa sempat menjelaskan diri,
menjadi angka dalam laporan yang dingin,
sementara keluarga mengumpulkan sisa-sisa kenangan
yang tak akan pernah kembali utuh.

Apakah negara lupa wajah rakyatnya sendiri?
Apakah kekuatan harus selalu dibuktikan dengan luka?
Jika suara kecil terus dibungkam,
maka diam akan berubah menjadi jeritan yang lebih besar.

Tanah Papua tidak butuh lebih banyak darah,
ia sudah terlalu lama menyimpannya,
yang dibutuhkan hanyalah keberanian
untuk mengakui, mendengar, dan menghargai sebagai sesama manusia.

Karena ketika senjata lebih nyaring dari hati,
yang gugur bukan hanya manusia—
tetapi juga arti dari kemanusiaan itu sendiri.

Salam hormat
Luka mereka adalah luka kita
Penderitaan mereka adalah penderitaan kita

Apakah kita bagian dari Indonesia?

Ada Rakyat maka ada negara
Tanpa rakyat, negara anyalah semboyan mimpi siang bolong.!

Terimakasih
Wamena 27 April 2025
An J.W.Y

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai