Di tanah yang dijuluki surga di timur sana,angin membawa kabar yang tak lagi lembut,

Di tanah yang dijuluki surga di timur sana,
angin membawa kabar yang tak lagi lembut,
bukan nyanyian burung cendrawasih yang terdengar,
melainkan jerit yang tertahan di balik kabut.

Puncak Jaya menangis dalam sunyi,
gunung-gunungnya menjadi saksi bisu,
langkah-langkah kecil yang dulu berlari riang,
kini terhenti oleh bayang-bayang yang tak menentu.

Ibu memeluk anaknya lebih erat,
seolah dunia bisa runtuh kapan saja,
doa-doa terucap lirih di setiap malam,
memohon pagi datang tanpa luka.

Tanah merah yang subur itu,
kini basah oleh air mata dan darah,
bukan karena hujan yang turun dari langit,
tetapi karena sesama kehilangan arah.

Siapa yang bisa menghitung duka ini?
Siapa yang mampu menimbang kehilangan?
Ketika nyawa menjadi angka di berita,
dan hati manusia perlahan mengeras oleh kebiasaan.

Namun di balik luka yang menganga,
harapan masih berdenyut pelan,
bahwa suatu hari senyap akan kembali damai,
dan anak-anak Papua bisa tersenyum tanpa ketakutan.

Biarlah puisi ini menjadi doa,
meski tak mampu menghentikan deru konflik,
semoga kasih menemukan jalannya pulang,
dan kemanusiaan kembali berdiri, utuh, dan utuh lagi.

———-_———————-_—-_——_—–

Demi kemanusiaan kami berdiri bersama mereka. luka mereka adalah luka kita , duka mereka adalah duka kita. Penderitaan mereka adalah penderitaan kita sebagai sesama OAP.

#Jangan diam tetap lawan

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai